Rabu, 02 April 2008

Sebuah Kiriman dari Sehabatku Wedea

Ketika hati sedang resah, kesana-kemari seperti mencari sesuatu yang
hilang. Darah pun mengalir tidak teratur, menekan ke atas membuat pikiran
memanas, mengendap di dada menekan paru-paru sehingga nafas menjadi tidak
teratur, dada berdebar-debar menekan balik darah. Keringat refleks membeku
di balik kulit, sekujur tubuh pun terasa pegal. Kadar emosi semakin naik,
mata menjadi tajam, tidak ada yang menarik untuk dilihat. Pikiran berputar
secepat-cepatnya, mendobrak masa lalu, menerjang masa depan, merontokkan
pundi-pundi langit yang masih kokoh melindungi rahasia kehidupan.

Hati yang sedang memberontak, jiwa bergelora, gemuruh ombak darah
memecahkan batu karang, pasir pantai terkikis, pepasiran muntah ke
daratan. Kepala terasa berat, tangan mengepal ingin menghancurkan alam
bawah sadar. Bibir bergetar menahan amarah, ingin berteriak dan meluapkan
segala kepenatan jiwa.

Mata pun terpejam untuk tidur sejenak, mengharapkan mimpi indah yang bisa
meredakan keresahan sekaligus sebagai petunjuk yang diharapkan, istirahat
dari hiruk-pikuk dilema. Alam bawah sadar menenggelamkan hati yang resah,
meleraikannya dari siksaan perasaan, melilitkan kalimat obsesi dan
optimisme. Tenanglah hati, damailah jiwa, rahasia Allah yang membungkus
kemuliaan adalah sesuatu yang pasti bagi siapapun yang meyakini dan
bersungguh-sungguh hasrat membukanya. Rahasia-Nya tidak melewati jalan,
tetapi ia melayang-layang di udara yang geraknya tidak disangka-sangka,
berjalanlah tanpa pernah mengenal lelah, tataplah ke depan dan jangan
sekali-kali menengok ke belakang, hingga sampailah segera ke kampung
keabadian yang Allah dijanjikan, berkumpul bersama dengan saudara-saudara
seiman, sejiwa, sejalan, secinta.

Tidak ada komentar: