Selasa, 22 April 2008

Tanda Alam

Tanda alam, desiran angin menyentuh hati
Mata bersinar cernih
Yang ada dalam hati terpendam rapat-rapat
Bila tersingkap, bagaimana dunia akan berubah?

Mendengarkan nyanyian datang dari hati
Oh mengapa sebatas ini saja
Houri, tetap disana biar aku pandang
Sepertinya memang harus menggoyangkan ayunan jiwa

Kamis, 17 April 2008

menyatulah

Dikemudian hari hati bersama angin perubahan
Ah semestinya kian gembira dan bahagia
Di luar atau di dalam sebenarnya satu makna
Yang menebarkan wangian disamping taman bunga

Menanti jangan diujung
Ambil dari sini sehingga disana mendapati
Musim ini akan berbeda teman,
Jangan jauh-jauh tapi mendekati

Jumat, 11 April 2008

Memilih Guru, Sahabat, dan Pemimpin

“Janganlah anda berguru atau bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan kepada Allah, baik kondisi ruhani (haal) maupun kata-katanya. Ketika anda berbuat buruk, ia memberitahu kalau perbuatan itu baik bagi anda, karena sesungguhnya anda telah bergabung pada orang yang lebih buruk daripada diri anda.”Orang yang tidak membangkitkan dirimu, tingkah laku ruhani maupun ucapannya yang bisa menunjukkan kepada Allah adalah orang yang sesungguhnya belum menempati posisi hakikat, belum mampu menghilangkan hasratnya dari sesama makhluk, bahkan dia lebih rela pada kepentingan dirinya.Walaupun orang tersebut sangat luas pengetahuannya, sangat banyak ibadahnya, sangat dalam pemikirannya, toh, orang yang demikian biasanya sangat mengandalkan ikhtiar amalnya, dan memuji dirinya sendiri. Sebaliknya orang yang bisa membangkitkan diri anda, tindakan, tingkah laku jiwa maupun ucapannya menunjukkan diri anda kepada Allah, adalah orang yang mampu menghilangkan ketergantungannya terhadap sesama makhluk, sementara qalbunya penuh dengan Musyahadah terhadap hakikat Ilahiyah. Bahkan seandainya anda memandang sejenak pun, anda menjumpainya sangat sibuk dengan kepentingan Allah, bersama Allah, dan ketika ia bicara seluruh ucapannya senantisa menuju satu titik simpul: Allah.Sulthanul Auliya’ Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily mengatakan, “Janganlah anda berguru atau bergabung pada orang yang mementingkan dirinya dibanding diri anda, karena itu bisa tercela. Dan juga orang yang mementingkan dirimu dibanding dirinya, karena hal itu tidak langgeng. Bergabunglah pada orang yang apabila menyebut sesuatu senantiasa menuju kepada Allah. Dan Allah mencukupi orang itu ketika orang itu ada, begitu juga Allah menggantikannya ketika orang itu tidak ada. Ucapannya adalah Cahaya Qalbu, dan Musyahadahnya adalah kunci-kunci keghaiban rahasia…”Untuk mencari panutan, pemimpin atau bahkan sahabat dekat orang yang benar-benar tingkah laku dan ucapannya senantiasa menjurus kepada Allah saat ini memang langka. Karena di tengah-tengah pergumulan zaman yang gila ini, para tokoh ummat, para pemimpin Islam, para Ulama dan Kyai semakin langka yang mementingkan ummat untuk menuju kepada Allah. Mereka malah sebaliknya saling bergelora untuk mementingkan dirinya sendiri, mementingkan sanak keluarganya, mementingkan perutnya.Sebagaimana ditulis di dinding Pesulukan Thariqat Agung (PETA) Tulung Agung, dengan sebuah peringatan keras berbunyi:Dajjal Kecil, Na’udzu Billah Hai Orang-orang yang dijuluki oleh masyarakat sebagai Ulama, Pemimpin Islam,Tokoh Islam…..Jangan kau jual Prinsip dan AkidahmuUntuk kepentingan perut dan keluargamu….Jauhilah orang-orang seperti ini…..Sebuah gambaran era dewasa ini, dimana para tokoh Islam dan Ulama telah menjual akidah dan keyakikannya demi masa depan hawa nafsunya.Seluruh gerakan keagamaan maupun kebajikan yang berlambangkan agama maupun atas Nama Allah, sementara tidak mampu memberikan Cahaya Ilahiyah yang bisa menunjukkan Wushul kepada Allah, maupun tidak bisa mendekatkan diri anda kepada Allah, sesungguhnya adalah gerakan kemunafikan dan kefasikan yang akan mendekatkan dan menyelubungi anda dengan hawa nafsu anda. Gerakan ini justru semakin mempertebal hijab antara anda dengan Allah.Begitu juga saat ini banyak orang yang secara retorik mengatasnamakan keluhuran, perjuangan, Jihad, bahkan meneriakkan Takbir, tetapi sama sekali retorikanya tidak meyentuh Qalbu, melainkan hanya membangkitkan emosi permusuhan terhadap sesama makhluk. Begitu juga sebaliknya ada kalangan atau tokoh yang mengibarkan semangat perdamaian, kebersamaan, kerukunan, dan seluruh lambang kebajikan, hanya akan sia-sia belaka manakala tidak memiliki niat menuju kepada Allah. Bahkan menyelipkan niat pribadi, memanjakan diri, dan semakin takut manakala tidak lagi jadi anutan atau pemimpin.Ulasan ini kita tutup dengan ucapan indah dari Asy-Syadzily, “Aku bertanya kepada guruku tentang sabda Nabi SAW: “Buatlah mudah dan jangan berbuat kesulitan, tebarkan kegembiraan dan janganlah membuat mereka terusir….” Beliau menjawab, “Tunjukkanlah mereka kepada Allah dan janganlah engkau tunjukkan mereka kepada selain Allah. Orang yang menunjukkan jalan kepada dunia, maka dunia akan menggulung anda. Orang yang menunjukkan jalan amal, maka amal itu akan membuat anda terbebani. Dan orang yang menujukkan anda kepada Allah, maka benar-benar menjadi penasehat anda….”

*Dari para teman dihati*

Kamis, 10 April 2008

Mabuk Menjadi dan Tenggelam

Sudah terbentuk permata berkilau
Dari jauh surya mendekati
Yang indah semakin menyalakan kilaunya
Tercipta badan dari cahaya

Nan jauh disana Ar Rahman mencipta bongkahan purnama
Malam menjadi mudah berkah cahaya
Mengerti hakiki bukan majazi
Yang beruntung menjadi cendikia

Beredar dengan lintasan hati
Akal hanya sang perdana menteri
Hikmat sangat dalam
Biar mabuk menjadi dan tenggelam

Kamis, 03 April 2008

Deniya II

Kabar berita begitu jauh
tak ada angin kesana untuk berkirim salam rindu
bagaimana ikatan krisan akan layu
namun api disepanjang hari masih menyala

Embun mulai terbang menjadi awan kembali
oh tetap menunggu angin lewat berharap titip salam pada Deniya
bila telah ada harum yang beterbangan datang darinya
kapan umpama menjadi nyata ...

Rabu, 02 April 2008

Sebuah Kiriman dari Sehabatku Wedea

Ketika hati sedang resah, kesana-kemari seperti mencari sesuatu yang
hilang. Darah pun mengalir tidak teratur, menekan ke atas membuat pikiran
memanas, mengendap di dada menekan paru-paru sehingga nafas menjadi tidak
teratur, dada berdebar-debar menekan balik darah. Keringat refleks membeku
di balik kulit, sekujur tubuh pun terasa pegal. Kadar emosi semakin naik,
mata menjadi tajam, tidak ada yang menarik untuk dilihat. Pikiran berputar
secepat-cepatnya, mendobrak masa lalu, menerjang masa depan, merontokkan
pundi-pundi langit yang masih kokoh melindungi rahasia kehidupan.

Hati yang sedang memberontak, jiwa bergelora, gemuruh ombak darah
memecahkan batu karang, pasir pantai terkikis, pepasiran muntah ke
daratan. Kepala terasa berat, tangan mengepal ingin menghancurkan alam
bawah sadar. Bibir bergetar menahan amarah, ingin berteriak dan meluapkan
segala kepenatan jiwa.

Mata pun terpejam untuk tidur sejenak, mengharapkan mimpi indah yang bisa
meredakan keresahan sekaligus sebagai petunjuk yang diharapkan, istirahat
dari hiruk-pikuk dilema. Alam bawah sadar menenggelamkan hati yang resah,
meleraikannya dari siksaan perasaan, melilitkan kalimat obsesi dan
optimisme. Tenanglah hati, damailah jiwa, rahasia Allah yang membungkus
kemuliaan adalah sesuatu yang pasti bagi siapapun yang meyakini dan
bersungguh-sungguh hasrat membukanya. Rahasia-Nya tidak melewati jalan,
tetapi ia melayang-layang di udara yang geraknya tidak disangka-sangka,
berjalanlah tanpa pernah mengenal lelah, tataplah ke depan dan jangan
sekali-kali menengok ke belakang, hingga sampailah segera ke kampung
keabadian yang Allah dijanjikan, berkumpul bersama dengan saudara-saudara
seiman, sejiwa, sejalan, secinta.

Menuju Istana ...

Berlalu menuju istana
Dibalik awan itu berada
Tinggalkan raga untuk mencapai kesana
Oh bekalnya harus kau punya...

Undangannya bersifat terbuka
Bacalah dan fahami artinya
Tidak boleh ada benci disana
Gembira, bahagia yang ada

Di istana semua menjadi muda
Aliran anggurpun tidak memabukkan
Kenapa lagi masih bersusah untuk dunia
Yang nyata dan selamanya pun telah tersedia...

Deniya...

Seindah pemandangan langit kebiruan
Berhiaskan awan yang berbaris rapat dan gemulai
Dari sini angin membisikan kata "titipkan padaku salam rindumu padanya"
Telah kubawa seikat bunga yang kupetik dari musim bersemi
Inilah hadiah untukmu...